UFC 272: Kebenaran Colby Covington

Seorang teman akhirnya menjadi lawan.

Alasannya tentu saja, gengsi tinggi, ambisi dan juga ingin tampil lebih hebat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam olahraga pertarungan.

Dalam olahraga ini, semua bisa menjadi lawan!

Teman yang menjadi lawan ini Colby Covington dan Jorge Masvidal akan bertemu dan menjadi headline di acara UFC 272 yang akan berlangsug pada 6 Maret 2022 di T-Mobile Arena, Las Vegas.


Covington saat ini adalah petarung terbaik di kelas Welter UFC. Dia menempati peringkat 1 (saat artikel ini dibuat).

Jika tidak ada Kamaru Usman, tentu Colby Covington sudah menjadi pemegang sabuk juara di divisi ini (Welterweight). Covington memiliki stamina gulat yang kuat dan cepat.

Di awal kemunculannya di UFC, Covington berhasil mengalahkan petarung veteran, Mike Pyle. Setelah itu, dia harus kalah melawan petarung Brasil, Warlley Alves.

Video pertarungan Covington vs. Alves:

https://youtu.be/9EUXHD0_twU

Tapi itu hal yang wajar.

Tidak sedikit petarung-petarung dengan talenta yang hebat tersandung oleh kekalahan sebagai pelajaran untuk meningkatkan keahlian.

Dan itu benar saja.

Setelah kekalahannya, Covington berhasil mengkoleksi tujuh kemenangan beruntun. Termasuk mengalahkan Rafael dos Anjos dalam perebutan sabuk juara interim.


Ketenaran Covington berasa langsung redup, setelah hadirnya persaingan Conor McGregor vs. Nate Diaz. Petarung lain seperti Tyron Woodley pun mulai merangsek naik ke papan peringkat atas kelas Welter.

Hal itu membuat Covington mulai dilupakan penggemar.

Penggemar tentu bebas memilih siapa petarung yang ingin mereka perhatikan. Tren mengarah kepada petarung yang paling berisik (berkata-kata kasar), paling riuh dan yang paling menjengkelkan.

Petarung yang hanya diam dan tidak berulah, cenderung diabaikan penggemar.

Colby Covington menyadari hal ini dan memutuskan untuk menjadi orang yang paling berisik, paling riuh, paling menjengkelkan di UFC.

Tapi, anehnya Kamaru Usman tidak terpengaruh dengan hal itu. Dia tetap populer meski tetap bersikap tidak berisik. Dia terus mengumpulkan cukup banyak kemenangan berturut-turut untuk mendapatkan peluang kejuaraan, memenangkan gelar, dan memaksa orang untuk memperhatikannya, kemudian dia mulai membuka diri, membiarkan orang-orang mengetahui kisahnya dirinya untuk lebih mengenalnya.


Ketidaksiapan Covington untuk bersikap tenang seperti Kamaru Usaman sudah membuat dirinya hanya dikenal seperti anak-anak sekolah dasar yang ribut hanya mencari perhatian. Dan itu sangat terlihat konyol.

Colby Covinton dinilai tidak bisa terus mempertahankan dominasinya yang membuat penggemar mengalihkan perhatian kepadanya.

Dengan koleksi 7-1 di UFC seharusnya sudah cukup menjadikan Covington menjadi pusat perhatian. Namun penggemar tidak hanya ingin kemenangan, penggemar ingin melihat pribadi dari seorang petarung.

Setelah empat tahun menjadi pribadi yang berisik, Covington terus mendapatkan perhatian penggemar dan tempat di kelas Welter. Satu kali kemenangan dan dua kali kalah dalam pertarungan gelar, Covington berencana bangkit dengan melawan Jorge Masvidal di UFC 272.

Namun sebagai catatan, dalam beberapa tahun terakhir ini, tidak ada seorang petarung bermulut besar yang berhasil memenangkan emas UFC. Tapi ini adalah Covington sekarang, sedang berusaha menaiki tangga untuk merebut tahta sebelum akhir karirnya di UFC.

Flowers in Chania

Leave a Comment